Meniti karir ibarat seperti pertandingan. Asal mau menang tapi tanpa dedikasi dan ketekunan, tentu membuat perjuangan kita sia-sia dan tidak bermakna. Inilah prinsip yang diterapkan oleh Ir. Maya Devi Kusumadjaja, M.A., alumnus UK Petra angkatan 1985, untuk berkarir di luar bidangnya selama lebih dari 30 tahun. Menempuh pendidikan S1 di UK Petra jurusan Teknik Elektro tidak mematahkan semangat Maya untuk tetap berdedikasi dan tekun menjalani panggilan hatinya menjadi tenaga pendidik. “Walaupun saya tidak bekerja di bidang Teknik Elektro, tetapi semua pengalaman saya semasa menjadi mahasiswa sangat menunjang perkembangan karir saya di dunia pendidikan yang saya geluti sekarang”, ulasnya. Benar saja, sejak duduk dibangku kuliah semester 3, Maya telah berpengalaman menjadi asisten dosen yang merupakan awal ia berkecimpung di dunia pendidikan. Bukan hanya bekal pengalaman mengajar, namun pengalaman berorganisasi – dimana ia sempat bergabung di HIMA Teknik Elektro – serta dorongan pertumbuhan rohani pun merupakan bekal dari UK Petra untuk mempersiapkan Maya dalam meniti karirnya saat ini.

Setelah lulus dari UK Petra, Maya mulai menekuni panggilannya dengan menjadi dosen jurusan Teknik di UBAYA (Universitas Surabaya), namun harus berhenti beberapa tahun karena fokus mengasuh anak bungsunya. Tahun 2006, ia melanjutkan panggilannya untuk memberikan kontribusi di pendidikan dasar dan mulai bergabung dengan IPH Schools – salah satu Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) di Surabaya yang menggunakan kurikulum Cambridge. Bak cinta ibu pada anaknya sendiri, Maya bahkan beberapa kali membimbing siswanya dan berhasil membawa mereka memenangkan beberapa lomba penelitian tingkat nasional.
Kerja keras dan pengabdian Maya sebagai guru membuat empat siswa yang pernah ia bimbing menominasikannya dalam event “Dedicated Teacher Awards 2021” yang diadakan oleh Cambridge University Press Inggris. Alhasil, ia berhasil meraih Top 60 dari total 13.000 guru dari 112 negara di dunia. Berawal dari kepala sekolah yang menginformasikan mengenai event ini, empat siswa tersebut dengan antusias menuliskan esai 150 kata mengenai pengalaman dan kesan mereka selama dibimbing oleh Maya sebagai syarat mengikuti event tersebut. Saat ditanya perasaannya, Maya dengan bangga menjawab, “Tentu saya senang sekali. Tetapi yang paling menyenangkan adalah ketika membaca esai dari empat siswa saya. Ini merupakan ekspresi apresiasi kerja keras saya ketika membimbing mereka. Ini adalah sesuatu yang priceless”.

Tak berhenti disitu, dedikasi Maya pun juga membawanya sekarang berada pada salah satu posisi penting di dunia pendidikan, yaitu Tim Kurikulum Sekolah. Secara khusus, Maya bertanggung jawab untuk memajukan matematika serta memberikan training kepada seluruh guru matematika, mulai dari tingkat Playgroup hingga SMA. Di luar matematika, ia juga membantu di bidang penelitian siswa dan pembenahan kurikulum sekolah.
Panggilan yang mengharuskan Maya bekerja diluar bidangnya tentu bukanlah hal yang mudah. Berada di lingkungan yang beragam, dimana guru-guru yang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, membuat Maya harus bisa beradaptasi secara ekstra. Namun dengan prinsip yang ia pegang – dedikasi dan tekun – justru membuatnya jatuh cinta dengan apa yang dikerjakannya. “Saya merasa hidup saya menjadi bermakna dengan memberikan kontribusi di dalam dunia pendidikan. Jadi, saya akan tetap memberikan kontribusi di dalam dunia pendidikan selagi saya masih mampu melakukannya”, ujar wanita yang lahir 54 tahun silam tersebut. Ya, berhasil mendorong siswa mencapai potensi maksimalnya hingga berhasil membimbing siswa untuk bertumbuh ke arah yang baik merupakan pencapaian Maya yang sangat mulia dan bermakna.

Dedikasi dan tekun – dua hal yang tampak sederhana, namun nyatanya mampu membawa Maya memaknai hidup serta panggilan hatinya. Bagaimana dengan Anda? Cukup dengan modal dedikasi dan ketekunan, siapkah Anda menjadi bermakna lewat panggilan hidup Anda seperti Maya?
Ditulis oleh: Aprillia Adella Suyanto