{"id":2513,"date":"2023-01-12T10:31:35","date_gmt":"2023-01-12T03:31:35","guid":{"rendered":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/?post_type=stories&#038;p=2513"},"modified":"2023-01-12T10:31:35","modified_gmt":"2023-01-12T03:31:35","slug":"vicky-yuwono","status":"publish","type":"stories","link":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/stories\/vicky-yuwono\/","title":{"rendered":"Behind The Food Adventure"},"content":{"rendered":"<p>Hari <em>gini <\/em>mau cari referensi <em>cafe <\/em>yang <em>Instagram-able <\/em>buat nongkrong dan makan-makan cantik? Atau mau cari restoran yang ramah di kantong tapi tetap memanjakan lidah? <em>Scroll <\/em>halamannya <em>food blogger<\/em>, dong! Zaman sekarang ini, rasanya semua warga dunia maya alias warganet pasti pernah melihat unggahan dari seorang <em>food blogger<\/em>. Sesuai namanya, seorang <em>food blogger <\/em>atau <em>foodie <\/em>biasanya membagikan konten-konten seputar makanan dan minuman lewat <em>platform <\/em>media sosial ataupun <em>blog<\/em> secara audio-visual. Konten-konten ini dapat berupa informasi tentang lokasi restoran, kisaran harga produk, hingga \u201c<em>review <\/em>jujur\u201d yang dikemas dengan gaya khas masing-masing <em>foodie<\/em>. Lewat foto, video, hingga narasi yang menarik, para <em>foodie <\/em>memancing rasa ingin tahu para warganet tentang produk yang mereka konsumsi, menjadi sarana promosi yang efektif bagi para pengusaha dunia kuliner.\u00a0<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2520\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-300x300.jpg 300w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-150x150.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-768x768.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-1536x1536.jpg 1536w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-2048x2048.jpg 2048w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-12x12.jpg 12w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-1200x1200.jpg 1200w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-600x600.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-50x50.jpg 50w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/S__26845199-min-1-100x100.jpg 100w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Menjadi seorang <em>foodie <\/em>adalah pekerjaan yang sangat <em>enjoyable<\/em>, demikian menurut <strong>Vicky Yuwono, S.T.<\/strong>, seorang alumnus Prodi Teknik Industri angkatan 2009. Bukan karena konsepsi \u201cmakan dan dibayar\u201d seperti anggapan banyak orang, tetapi karena menjadi seorang <em>foodie <\/em>berarti dirinya bisa fokus pada hal yang disenanginya: fotografi. Lewat akun Instagram @vickyyuwono, pria kelahiran Kediri ini membagikan potret-potret makanan yang diambilnya dengan apik, sekaligus memberikan ulasan lengkap yang berkualitas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berawal dari idealismenya untuk bekerja sesuai <em>passion<\/em>, Vicky yang bergelar sarjana teknik mencoba segala cara untuk bisa menekuni fotografi sebagai pekerjaan utamanya. \u201cAwal lulus, sempat kerja tiga bulan di salah satu pabrik di Rungkut. Aku <em>nggak <\/em>betah, jadi setelah kontrak awal selesai, aku berhenti. Awalnya, aku masih ada pikiran untuk kerja sesuai <em>passion<\/em>, yaitu foto. Tetapi, kenyataannya susah, melihat <em>background <\/em>aku lulusan teknik,\u201d kisahnya. Ia pun sempat ikut kursus fotografi untuk mendapatkan sertifikat, namun mencari pekerjaan di bidang tersebut tetap sulit. \u201cOrang melihat aku cuma punya sertifikat, bukan gelar dari sekolah formal. Sempat <em>jobless<\/em> selama enam bulan sebelum akhirnya masuk kerja di salah satu bank swasta di Surabaya,\u201d tambahnya. Walaupun terlihat sebagai karir yang stabil, ini bukanlah jalan yang diinginkan Vicky.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua tahun berjalan, dan kontraknya dengan bank swasta tersebut berakhir. Persimpangan jalan kembali muncul di depan mata. \u201cSelama dua tahun itu, aku masih terus foto untuk <em>upload <\/em>di Instagram. Selesai kontrak di bank, <em>galau<\/em>. \u2018Lanjut, <em>gak<\/em>?\u2019 Salah satu temanku bilang, \u2018Ya, sudahlah, kamu coba <em>resign. <\/em>Kalau tiga bulan pertama <em>nggak dapet duit <\/em>sama sekali, terburuknya, kembali kerja ikut orang.\u2019\u201d Dari sana, Vicky memberanikan diri berhenti dari pekerjaannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak masih mahasiswa, Vicky memang senang memotret kudapan yang dipesannya di kafe. Bahkan, ia sering memesan <em>dessert <\/em>di toko-toko <em>online <\/em>dan menuliskan ulasan sendiri di Instagram. Hobinya itu membuka pintu koneksi dengan banyak Instagrammer (pengguna Instagram, <em>red.<\/em>) dengan kesenangan yang sama. Ia pun terjun ke dunia kuliner sebagai seorang <em>content creator<\/em>, atau yang lebih dikenal dengan istilah <em>food blooger<\/em> atau <em>foodie, <\/em>dan sangat menikmatinya hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cEnak ya, kerjaannya makan-makan terus, dibayar pula!\u201d <\/em>Mungkin sebagian dari kita berpikiran seperti ini kala melihat unggahan para <em>foodies<\/em> di Instagram ataupun TikTok. Tetapi, menjadi seorang <em>foodie <\/em>yang berkualitas ternyata tidak mudah. Menurut pria 30 tahun ini, menjadi seorang <em>foodie <\/em>berarti banyak berhubungan dengan manusia. \u201cBerhadapan dengan orang-orang itu tantangan. Kadang ada yang santai, ada juga yang rewel. Ada yang tidak mengerti Instagram, ada <em>request<\/em> yang sulit dan <em>nggak <\/em>searah sama pemikiranku,\u201d tuturnya. Tak hanya itu, seorang <em>foodie <\/em>juga harus peka akan tren. \u201cTahun 2013-2014, orang akan <em>follow <\/em>akun Instagram berdasarkan visual foto atau <em>feeds<\/em>-nya. Tetapi sejak 2016-2017, tren itu bergeser. Orang lebih melihat konten. Tidak peduli makanannya ditata atau tidak, fotonya bagus atau tidak, selama makanannya terlihat enak, maka akan di-<em>follow<\/em>. Sekarang juga banyak bergeser ke video,\u201d ujarnya. Vicky yang awalnya berfokus pada <em>food photography<\/em>, harus mulai menyesuaikan diri dengan membuat konten berupa video <em>casual<\/em> ala-ala TikTok yang saat ini tengah merebak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" data-id=\"2521\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-819x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2521\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-819x1024.jpg 819w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-240x300.jpg 240w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-768x960.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-10x12.jpg 10w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-600x750.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1-150x188.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/131474061_716786232596789_2852885554838484108_n-1.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" data-id=\"2523\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-819x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2523\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-819x1024.jpg 819w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-240x300.jpg 240w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-768x960.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-10x12.jpg 10w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-600x750.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1-150x188.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/139807500_436087297592958_2054474977811156089_n-1.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" data-id=\"2522\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-819x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2522\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-819x1024.jpg 819w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-240x300.jpg 240w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-768x960.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-10x12.jpg 10w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-600x750.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1-150x188.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/152032330_461520388370805_4214650785486864933_n-1.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Menjadi <em>foodie <\/em>saat ini juga tak lepas dari dampak pandemi global. Baginya, pandemi COVID-19 bagaikan <em>blessing in disguise. <\/em>\u201cDi awal pandemi, sekitar Juni-Juli 2020, banyak sekali pengusaha FnB baru yang muncul, dan mencari media promosi,\u201d kisah Vicky. Namun di balik banyaknya permintaan promosi yang masuk, acara-acara yang sudah terjadwal pun banyak yang dibatalkan. Vicky juga harus menyesuaikan kebiasaan baru, yaitu melakukan <em>background check <\/em>sebelum keluar rumah \u2014 memastikan restoran atau kafe yang didatanginya tidak sedang ramai, ataupun meminta produk promosi dikirimkan ke rumah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia seorang <em>foodie <\/em>pun tak jarang dihiasi miskonsepsi dari orang-orang yang melihatnya.<em> <\/em>\u201cOrang mengira, <em>foodie <\/em>harus membuat produk yang diulasnya laku. Padahal, <em>foodie <\/em>itu ibarat \u2018koran\u2019. Targetnya adalah <em>awareness<\/em>, bukan <em>sales<\/em>,\u201d jelas Vicky. <em>Foodie <\/em>berbasis Surabaya ini juga sering mendapatkan pertanyaan terkait ulasan yang diberikannya. \u201cSeringkali kita dipertanyakan, \u2018<em>wah<\/em>, kamu ini <em>fake review<\/em> ya?\u2019 Ada oknum-oknum yang memang suka <em>review <\/em>\u2018<em>ngasal<\/em>\u2019. Tidak enak, dibilang enak,\u201d tukasnya jujur. Dalam mempertahankan kualitas ulasannya, Vicky menggunakan konsep \u201cmengapa\u201d yang didapatkannya dari perkuliahannya di Teknik Industri UK Petra. \u201cMisalnya aku bilang \u2018makanan ini enak\u2019. Mengapa enak? Apakah sudah dibandingkan dengan <em>brand <\/em>sebelah? Segi enaknya dari mana? Dosen-dosen di TI dulu selalu menanyakan, <em>why<\/em>. Gaya <em>review<\/em>-ku terpengaruh pola pikir yang aku dapatkan ketika kuliah di TI, \u201d ceritanya.\u00a0\u00a0 Apakah menjadi seorang petualang kuliner berarti ilmu yang didapatkan Vicky di Teknik Industri berakhir sia-sia? Jawabannya, <em>ya<\/em> dan <em>tidak. <\/em>\u201cMata kuliah yang benar-benar terpakai secara eksak, ya, <em>nggak<\/em> ada,\u201d ujar Vicky terkekeh. \u201cTetapi yang terpakai itu pola pikirnya,\u201d ia melanjutkan. Meski karirnya saat ini sangat berbeda dibandingkan studinya dulu, hari-hari di Teknik Industri malah mengajarkan Vicky untuk terus berusaha. \u201cBanyak orang yang nasibnya sama kayak aku. Kuliah bingung sama jurusan, begitu <em>nyemplung<\/em>, ternyata salah. Pesanku, <em>jalanin <\/em>sampai akhir. Tetap berusaha, tetap ketahui <em>passion<\/em>. Kerjakan <em>passion<\/em>-mu di dalam dan luar kampus. Setelah lulus, mencari pekerjaan sesuai <em>passion<\/em> mungkin memakan waktu lama, tetapi suatu saat, pasti ketemu,\u201d tutupnya.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh: Denalyn T. Istianto<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari gini mau cari referensi cafe yang Instagram-able buat nongkrong dan makan-makan cantik? Atau mau cari restoran yang ramah di<\/p>","protected":false},"featured_media":2518,"template":"","class_list":["post-2513","stories","type-stories","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/stories\/2513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/stories"}],"about":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/stories"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2518"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}