{"id":2649,"date":"2023-06-08T09:34:23","date_gmt":"2023-06-08T02:34:23","guid":{"rendered":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/?post_type=stories&#038;p=2649"},"modified":"2023-06-08T09:38:50","modified_gmt":"2023-06-08T02:38:50","slug":"merancang-mimpi-membangun-dunia","status":"publish","type":"stories","link":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/stories\/merancang-mimpi-membangun-dunia\/","title":{"rendered":"Merancang Mimpi, Membangun Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p>Jika berkunjung ke Belgia, Museum aan de Stroom (MAS) sebagai salah satu ikon kota di negara tersebut tersebut tidak boleh terlewatkan. Bangunannya yang megah, kokoh, dan unik menjadi daya tarik utama serta bukti kualitas <strong>Silvy Santosa <\/strong>salah seorang alumnus Teknik Sipil UK Petra angkatan 1994. Bahkan ketika profesi di bidang tersebut dinilai cenderung tabu bagi perempuan, Silvy tetap teguh meniti kariernya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang <em>passion <\/em>saya dari dulu untuk bekerja di dunia <em>construction,<\/em>\u201d kenangnya. Ia kembali teringat pada masa kecil tatkala ia mengagumi bangunan-bangunan megah dan jembatan besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum Silvy menangani berbagai proyek besar di negara-negara Eropa, ia memulai perjalanan kariernya di Surabaya usai sidang skripsi. Ia direkrut oleh salah satu dosen UK Petra, Hasan Santoso.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2651\" width=\"597\" height=\"399\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-300x200.jpg 300w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-768x512.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-18x12.jpg 18w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-600x400.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2-150x100.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_2.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 597px) 100vw, 597px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Silvy Santosa, alumnus Teknik Sipil  angkatan 1994<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>\u201cBelajar cara <em>handle <\/em>proyek, turun langsung ke lapangan, dipercayakan untuk menghitung proyek konstruksi baja dan beton, sekaligus monitoring kuantitas, pokoknya apa yang terjadi dan dibutuhkan secara praktis,\u201d ujarnya. Pengalaman tersebut sangat berharga bagi Silvy sebagai <em>fresh graduate, <\/em>serta mengantarkannya pada pengalaman-pengalaman berikut hingga tiba pada perusahaan konstruksi Belanda di Indonesia. Ia pun berkesempatan bekerja bersama ekspatriat asal Belanda dan Australia, serta mengerjakan proyek-proyek di Surabaya dan Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Belgia pada tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski didasari oleh karier sang suami yang berkembang di negara asing, Silvy yang mengantongi gelar Sarjana Teknik Sipil dengan dasar <em>structural engineering <\/em>dari UK Petra turut memperluas pengalaman. Perempuan kelahiran Bali ini pun melanjutkan mimpinya di bidang <em>construction <\/em>dengan bergabung di perusahaan consultant dan mengerjakan proyek \u2018het MAS\u2019 (<em>Museum Aan de Stroom<\/em> yang artinya \u2018museum di tepi sungai\u2019) di Antwerpen, Belgia sebagai proyek pertamanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau ada keluarga berkunjung, saya bisa menunjukkan \u2018Itu, <em>lho, <\/em>proyek pertama saya di Belgia\u2019,\u201d ujarnya sembari tertawa. \u201cItulah keuntungan kerja di (bagian) <em>building, <\/em>kita bisa tunjukkan hasil (fisik). Beda dengan proyek-proyek infrastruktur yang kini saya kerjakan. Walaupun tergolong dalam proyek-proyek terbesar dunia, tetapi letaknya di bawah laut semua.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-1024x685.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2653\" width=\"761\" height=\"509\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-1024x685.jpg 1024w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-300x201.jpg 300w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-768x514.jpg 768w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-1536x1028.jpg 1536w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-18x12.jpg 18w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-1200x803.jpg 1200w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-600x401.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1-150x100.jpg 150w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_3-Museum-aan-de-Stroom-MAS-ikon-kota-Antwerp-sebagai-proyek-pertama-Silvy-di-Belgia-1.jpg 2000w\" sizes=\"auto, (max-width: 761px) 100vw, 761px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Museum aan de Stroom (MAS), ikon kota Antwerp, sebagai proyek pertama Silvy di Belgia<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Secara teknis, ia juga mengaku sempat mengalami <em>culture shock<\/em>. Berbeda dengan Indonesia yang rawan gempa, Belgia tidak memerlukan kolom dan tiang pancang dikarenakan letak geografisnya. Pemilihan material pun condong mengarah ke prefabrikasi, serta prioritas <em>safety and health in construction <\/em>yang wajib melalui serangkaian tes dan peralatan keselamatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Silvy menambahkan, \u201cKami juga membuat simulasi dengan <em>Virtual Reality <\/em>(VR)sebagai bagian dari <em>Virtual Design<\/em>. Fungsinya menunjukkan bahaya dari alat-alat berat yang ada di lokasi, atau apa yang harus diperhatikan para pekerja untuk menghindari kecelakaan.\u201d Dengan demikian, harapannya pembangunan dapat menerapkan <em>zero accident on site<\/em>. Berkat kecanggihan teknologi juga, Silvy berdecak kagum ketika konstruksi panel kaca melengkung yang menjadi ciri khas MAS dikerjakan secara modern.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2654\" width=\"459\" height=\"688\" srcset=\"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya.jpg 683w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya-200x300.jpg 200w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya-8x12.jpg 8w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya-600x900.jpg 600w, https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/2-Silvy-Santosa_4-Panel-kaca-melengkung-yang-menjadi-ciri-khas-MAS-merupakan-hasil-kerja-Silvy-di-Belgia-pertama-kalinya-150x225.jpg 150w\" sizes=\"auto, (max-width: 459px) 100vw, 459px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Panel kaca melengkung yang menjadi ciri khas MAS merupakan hasil kerja Silvy di Belgia pertama kalinya<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Silvy terus mendalami perancangan\/desain <em>building <\/em>selama sepuluh tahun berikutnya berkat kesenangannya terhadap bangunan. Ia menyukai proses pengerjaan, kepastian yang dapat diperhitungkan, hingga hasil jadinya. Ketika dirasa telah cukup familiar dan berpengalaman dalam ranah ini, Silvy mengambil tantangan lain berupa pembangunan infrastruktur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>The New Lock in Terneuzen <\/em>ini termasuk salah satu <em>lock <\/em>terbesar di dunia, berukuran panjang 427meter dan lebar 55meter, mirip dengan <em>lock <\/em>di Terusan Panama. Perbedaannya, <em>the New Lock in Terneuzen <\/em>memiliki kedalaman 15 meter, sedangkan <em>Lock <\/em>Panama 18.3 meter,\u201d terangnya. Terletak di antara Belgia dan Belanda, <em>The New Lock in Terneuzen <\/em>khususnya berpengaruh bagi Belanda, Belgia, dan Perancis. Infrastruktur bawah laut ini berfungsi sebagai pertahanan air dan akses kapal besar di jalur perairan ekonomi Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p>Walau tidak sepenuhnya sejalan dengan pengalaman sebelumnya<em>, <\/em>Silvy menemukan keasyikan tersendiri dengan menggeluti infrastruktur. Faktor-faktor yang mendasari perhitungan, risiko, hingga tantangan kekuatan suatu infrastruktur sangat berbeda dengan yang dikenal Silvy pada pembuatan <em>building. <\/em>\u201cKita belajar hal baru setiap hari,\u201d ungkapnya. Menyeimbangkan dengan kehidupan berkeluarga, komitmen Silvy terhadap proyek ini dibuktikan salah satunya dengan perjalanan pulang pergi Belgia-Belanda setiap harinya selama 3-4 jam, bahkan 5 jam jika harus menghadiri <em>meeting<\/em> di kantor pusat di Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Perpindahan fokus karier ini dibarengi dengan penguasaan Silvy terhadap <em>Building Information Management <\/em>(BIM) yang berperan besar dalam proses perancangan dan pembangunan proyek-proyek di Eropa. Tidak dapat disangkal bahwa infrastruktur yang ditangani Silvy bersifat <em>high risk <\/em>atau memiliki risiko tinggi. Berpacu untuk merealisasikan <em>lifetime project <\/em>aliasproyek yang memiliki ketahanan minimal 100 tahun, keahlian dan fasilitas yang digunakan pun berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Penerapan BIM serta <em>Artificial Intelligence <\/em>(AI) dan VR diakui dapat memberi data yang akurat untuk penggambaran digital, analisa meminimalkan risiko, <em>clashes <\/em>dapat dideteksi sedini mungkin dan dicarikan solusinya sehingga pada waktu pelaksanaan, risiko dapat dikurangi. Selain itu, menggunakan BIM dapat membantu <em>designer <\/em>serta tim pelaksana melihat secara visual apa yang akan mereka kerjakan (memberi tampilan dalam format 3D).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPrinsipnya adalah <em>what you see is what you get,\u201d<\/em> tegasnya. Memanfaatkan keahlian ini, proyek infrastruktur selanjutnya adalah <em>The Fehmarnbelt Tunnel. Tunnel<\/em> bawah laut yang menggunakan teknik \u2018immersed\u2019 sepanjang 18 kilometer yang menghubungkan Denmark dan Jerman, serta merupakan salah satu <em>\u2018world longest immersed tunnel\u2019<\/em> pun dipercayakan pada Silvy selaku <em>Digital Construction Manager BAM Wayss &amp; Freytag.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan, \u201cSelama ini kapal feri menjadi akses yang digunakan untuk menghubungkan negara-negara Skandinavia dengan Eropa Tengah memakan waktu yang cukup lama, karena itu dibangun <em>tunnel <\/em>untuk mempercepat mobilisasi.\u201d Guna mendukung perancangan <em>The Fehmarnbelt Tunnel <\/em>serta seluruh sarana dan prasarana, didirikan pabrik khusus untuk mencetak elemen<em> tunnel<\/em>,<em> landside work<\/em> sampai <em>Portal Area <\/em>yang menghubungkan<em> landside<\/em> dan laut yang didesain menggunakan BIM. Keputusan ini dikarenakan elemen harus akurat secara berat dan volume, sebab pada praktiknya harus mampu mengambang dan dibenamkan pada waktu-waktu tertentu dan hanya mempunyai toleransi yang kecil sekali dalam pelaksanaan, jadi semua harus tepat dan akurat. Di sisi lain, <em>tunnel <\/em>tersebut berkaitan pula dengan harapan <em>global world change, <\/em>yakni mendorong publik untuk menggunakan kereta atau transportasi umum lainnya, guna mengurangi CO2 yang berdampak negatif bagi iklim dan ekosistem. Tersedianya semakin banyak dan beragam akses diharapkan mempermudah hadirnya transportasi umum serta penggunaannya bagi publik.<\/p>\n\n\n\n<p>Menilik kembali dari perjalanan kariernya sejauh ini, Silvy bersyukur untuk dasar ilmu yang dipelajarinya dari UK Petra. \u201cLogika, teknis hitungannya, ilmu yang didapat juga yang saya pakai sampai sekarang,\u201d akunya. Sebagai praktisi, Silvy mengapresiasi strategi UK Petra yang menerapkan <em>basic <\/em>ilmu sesuai standar terkini sehingga dapat diaplikasikan pada praktiknya. Ia berharap, almamaternya ini dapat senantiasa mengembangkan kompetensi dalam <em>digital construction, <\/em>sesederhana menerapkan teknik gambar 3D agar mahasiswa lebih familiar dan siap menghadapi industri ke depannya.<\/p>\n\n\n\n<p>UK Petra merupakan memori yang spesial bagi Silvy dikarenakan institusi pendidikan ini yang mempertemukan dirinya dengan sang suami, <strong>Antonius Wibowo, <\/strong>yang juga juga mahasiswaTeknik Sipil. Selain merindukan cuaca hangat dan hidangan pempek di Indonesia, ia juga tetap menjalin pertemanan dengan sahabat-sahabat yang dijumpainya semasa berkuliah. Kegemarannya mempelajari analisis struktur dan gempa pun tidak lepas dari peranan dosen-dosen favoritnya, Benjamin Lumantarna dan Gideon Hadi Kusuma.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai lulusan universitas dalam negeri, Silvy paham akan kekhawatiran tertentu yang terkadang dapat mengecilkan hati seseorang sebelum bertanding. \u201cKalau ada impian dan <em>passion <\/em>terhadap sesuatu, jangan takut untuk dikejar,\u201d pesannya. Sembari terus belajar, Silvy meningkatkan pemahaman dan jam terbang dalam bidangnya. Ia menyadari adanya niat dan hati yang teguh untuk mewujudkan mimpi mampu mengatasi tantangan di masa mendatang. Mari Petranesian, kita juga dapat merealisasikan mimpi masing-masing. Seperti kata Joel Osteen, <em>\u201cGod planted a dream in your heart for a reason. No one else can dream it for you. No one else will accomplish it for you.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sukses selalu, Silvy! ***<\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh: Magdeline Priscilia<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika berkunjung ke Belgia, Museum aan de Stroom (MAS) sebagai salah satu ikon kota di negara tersebut tersebut tidak boleh<\/p>\n","protected":false},"featured_media":2650,"template":"","class_list":["post-2649","stories","type-stories","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/stories\/2649","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/stories"}],"about":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/stories"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2650"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/alumni.petra.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2649"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}